Ayna - Perwira Learning Center

Foto Profil Ayna

Hiii, Aku Aynaaa! đź‘‹

This is a cruel world. And yet...so beautiful....

Mengenal Queue Tree pada MikroTik: Konsep Dasar dalam Manajemen Bandwidth - Perwira Learning Center



Latar Belakang 

Dalam sebuah jaringan yang digunakan oleh banyak pengguna, pembagian bandwidth sering kali menjadi tantangan utama. Tanpa pengaturan yang jelas, penggunaan internet dapat menjadi tidak merata sehingga menimbulkan koneksi lambat, buffering, atau gangguan pada layanan penting lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa manajemen bandwidth bukan hanya sekadar pengaturan teknis, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas dan stabilitas jaringan. Salah satu fitur yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah Queue Tree pada MikroTik, yang memungkinkan administrator mengatur dan mengendalikan lalu lintas data secara lebih terstruktur.

Artikel ini bertujuan untuk mengenalkan konsep dasar Queue Tree serta menjelaskan cara kerjanya dalam proses manajemen bandwidth. Dengan memahami bagaimana Queue Tree berfungsi, pembaca diharapkan mampu mengetahui peran pentingnya dalam membagi, membatasi, dan mengoptimalkan penggunaan bandwidth sesuai kebutuhan jaringan. Melalui pemahaman ini, pengelolaan trafik dapat dilakukan secara lebih efektif sehingga tercipta distribusi internet yang lebih adil, stabil, dan terkendali.

Pembahasan 

Pada pembahasan ini, akan dijelaskan bagaimana Queue Tree pada MikroTik bekerja dalam mengatur dan membatasi bandwidth berdasarkan penandaan paket yang telah dibuat sebelumnya. Proses ini dimulai dari pengelompokan trafik menggunakan packet mark, kemudian dilanjutkan dengan pengaturan batas kecepatan (limit) pada masing-masing kategori trafik melalui Queue Tree. Dengan cara ini, setiap pengguna atau jenis layanan dapat memperoleh alokasi bandwidth sesuai kebutuhan, sehingga penggunaan jaringan menjadi lebih terkontrol, stabil, dan tidak saling mengganggu satu sama lain.

Pengertian Queue Tree

Quee Tree adalah salah satu fitur yang terdapat dalam mikrotik yang digunakan untuk mengatur jumlah bandwidth. Berfungsi untuk mengimplementasikan fungsi yang lebih kompleks dalam bandwidth yang terbatas. Biasanya digunakan oleh admin warnet untuk membatasi satu arah koneksi untuk download maupun untuk upload. Cara membuat Queue Tree sering dibilang agak rumit oleh orang. Oleh karena itu, orang lebih banyak memilih simplequeuee.

Queue Tree dirancang untuk menjalankan tugas yang lebih kompleks, dan kita butuh pemahaman yang baik tentang aliran trafik, dan kita harus mengaktifkan fitur mangle pada firewall. Sedangkan Simple Queue kebanyakan digunakan untuk memudahkan konfigurasi.

Teori Queue Tree 

1. Hierarki dan Fleksibilitas: Menggunakan struktur induk dan anak (parent-child) untuk membagi bandwidth secara teratur, adil, dan efisien.

2. Wajib Mangle: Sebelum membuat antrean, paket harus ditandai terlebih dahulu di /ip firewall mangle menggunakan mark connection dan mark packet.

3. Pengaturan Searah: Queue Tree memungkinkan pengaturan terpisah untuk upload dan download pada interface yang berbeda, menjadikannya ideal untuk lalu lintas kompleks (streaming, game, browsing).

4. Limit Maksimal: Memungkinkan penggunaan fitur max-limit (batas atas) dan limit-at (jaminan bandwidth).

5. Kompleksitas: Cocok untuk jaringan skala menengah-besar, namun membutuhkan resource lebih tinggi jika mangle terlalu banyak. 

Queue Tree biasanya bekerja sama dengan Mangle, dan HTB (Hierarchical Token Bucket)

Dalam konteks Queue Tree pada MikroTik RouterOS, HTB (Hierarchical Token Bucket) merupakan metode manajemen bandwidth yang bekerja secara bertingkat dan dinamis. Konsepnya memungkinkan pembagian bandwidth dalam struktur parent dan child, sehingga bandwidth utama (root) dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok (inner), lalu dibagi lagi hingga ke antrean paling akhir (leaf) tempat pembatasan sebenarnya dilakukan. HTB menggunakan sistem “token bucket”, di mana trafik hanya dapat lewat jika masih tersedia kapasitas (token), dan akan menunggu jika kapasitas habis. Selain itu, HTB mendukung mekanisme peminjaman bandwidth, yaitu ketika satu child tidak menggunakan jatahnya, sisa bandwidth dapat dipakai oleh child lain dalam parent yang sama.

Struktur kelas dalam HTB terdiri dari Root sebagai sumber utama bandwidth, Inner sebagai pengelompok yang memiliki turunan, dan Leaf sebagai titik akhir pembatasan sekaligus tempat pengaturan prioritas. HTB menjadi penting dalam Queue Tree karena memungkinkan pengaturan prioritas trafik penting seperti aplikasi meeting online atau game agar tetap stabil, tanpa membuang bandwidth ketika jaringan sedang tidak penuh. Dengan sistem hierarki ini, manajemen bandwidth menjadi lebih fleksibel, efisien, dan terkontrol sesuai kebutuhan jaringan.

Ciri utama Queue Tree yaitu 

1. Lebih Fleksibel dari Simple Queue
Jika Simple Queue biasanya membatasi berdasarkan Target (IP atau Interface), Queue Tree membatasi berdasarkan Packet Mark (Tanda Paket).

Contoh Fleksibilitas: Anda bisa membuat aturan khusus: "Trafik YouTube dibatasi 2 Mbps, tapi kalau buka Portal Kantor kecepatannya Unlimited." Simple Queue akan kesulitan melakukan ini tanpa konfigurasi yang sangat rumit.

2. Bandwidth Upload & Download Terpisah
Ini adalah perbedaan teknis yang paling terasa saat konfigurasi:

Simple Queue: Dalam satu baris konfigurasi, Anda langsung mengisi Target Upload dan Target Download.
    
Queue Tree: Anda harus membuat dua pohon (tree) yang berbeda. Satu pohon untuk mengelola trafik yang keluar ke internet (Upload), dan satu pohon untuk trafik yang masuk ke client (Download). Ini memberikan kontrol yang jauh lebih presisi.

3. Cocok untuk Jaringan Besar
Queue Tree bekerja lebih efisien di belakang layar (pada level packet processing).

Efisiensi CPU: Simple Queue dibaca oleh router secara berurutan dari atas ke bawah (seperti daftar belanja). Jika ada 500 baris, router harus mengecek satu per satu.
    
Struktur Tree: Queue Tree menggunakan struktur hierarki. Router bisa langsung menuju ke cabang yang relevan, sehingga beban kerja prosesor router tetap stabil meski penggunanya banyak.

Ini contoh Praktiknya

1. Membuat Firewall Mangle (Connection Mark Download dan Upload)
klik tanda : [+]
tab General: Chain Forward, Src. Address : IP yang kita dapatkan dari ISP
tab Action : pilih mark connection
New Connection Mark  conn-8.14-download
Passthrough: Yes


Buat Parameter baru untuk Upload
tab General : Chain Forward, Dst. Address : IP yang kita dapat juga dari ISP
tab Action : Mark connection
New Connection Mark: onn-8.14-upload
Passthrough: Ys

2. Membuat Firewall Mangle (Mark Packet Upload dan Download)
buat parameter baru untuk mark packet
tab General: Chain Forward
Connection Mark : conn-8.14-download (yang tadi kita buat di new connection mark)
tab Action  Mark Packet 
New Packet Mark :packet-8.14-download
Passthrough : No
 

Buat parameter baru 
tab General : Chain Forward
Connection Mark : conn-8.14-upload (yang kita buat tadi di Connection Mark)
Action : Mark Packet
New Packet Mark : conn-8.14-upload
Passthrough : No


Ini tampilan hasil Firewall Mangle yang kita buat 

3. Setelah itu kita pergi ke menu Queue, lalu ke tab Queue Tree

tab General diberi nama: Upload
Parent : global 
Max Limit : 5M
Buat parameter baru
tab General dinamai : client-8.14-upload
Parent : Upload 
Packet Marks : packet-8.14-upload (yang tadi sudah kita buat di packet mark Mangle)
Max Limit : 1M

4. Buat Parameter Baru untuk Download
tab General diberi nama : Download 
Parent : Global 
Max Limit : 10M

Buat Parameter baru lagi untuk Download 

tab General diberi nama : client-18.14-download
Parent : Download
Packet Marks : Packet-8.14-download (yang tadi kita buat di Packet Mark Mangle)

Inilah hasil akhirnya

Hasil Speedtest

Hasil Pembelajaran 

Setelah mempelajari materi ini, saya memahami bahwa Queue Tree pada MikroTik merupakan fitur manajemen bandwidth yang bekerja secara hierarki dan memerlukan penandaan paket melalui Mangle sebelum diterapkan. Saya juga memahami peran HTB dalam membagi bandwidth secara bertingkat (parent dan child) sehingga distribusi trafik dapat diatur secara lebih fleksibel, terstruktur, dan efisien. Dengan pemahaman ini, saya mampu menjelaskan konsep dasar serta cara kerja Queue Tree dalam mengoptimalkan dan menstabilkan penggunaan bandwidth pada jaringan.

Kesimpulan 


Queue Tree pada MikroTik merupakan fitur manajemen bandwidth yang memungkinkan pengaturan trafik secara hierarki dan terstruktur. Dengan memanfaatkan Mangle untuk penandaan koneksi maupun paket, serta metode HTB (Hierarchical Token Bucket), administrator dapat membagi, membatasi, dan mengoptimalkan bandwidth sesuai kebutuhan jaringan. Meskipun konfigurasi Queue Tree lebih kompleks dibandingkan Simple Queue, fitur ini memberikan fleksibilitas dan kontrol yang lebih presisi, sehingga sangat cocok digunakan pada jaringan dengan jumlah pengguna yang banyak dan kebutuhan trafik yang beragam.

Daftar Pustaka

Albahri, R. R. (2017, February 10). Pengertian Queue Tree dan cara konfigurasi-nya. Diambil dari https://riskyramadhanalbahri.wordpress.com/2017/02/10/pengertian-queue-tree-dan-cara-konfigurasi-nya

Susianto, D. (2016). Implementasi Queue Tree untuk manajemen bandwidth menggunakan Router Board MikroTik (Jurnal Cendikia, Vol. 12 No. 1). Media Nelitik. Diambil dari https://media.neliti.com/media/publications/277372-implementasi-queue-tree-untuk-manajemen-ffbf60da.pdf